Rabu, 23 Desember 2020

Entahlah.

Pagi tak lagi bersemangat.

Siang tak lagi menyengat.

Sore tak lagi bersahabat.

Malam tak lagi hangat.


Mungkin itu yang pantas untuk kali ini.


Entah mulai darimana harus dimulai cerita ini. Untuk memulai, peribahasa "berenang-renang ke hulu, berakit-rakit ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian", menjadi sebuah peribahasa yang mulai menjadi hoax. Kenapa harus berenang ke tepian jika tepiannya saja tidak mau aku tuju?

Sedikit rumit pembukaan kali ini. Bukan sok menjadi puitis. Hanya saja kali ini kesabaranku mulai habis.

Kali ini cerita tentang hidupku yang mulai dewasa. Kalo tak mau tahu, tak apa.

Cerita ini berawal dari aku yang hanya manusia biasa dan hanya bisa berusaha. Sejak dahulu waktu masih muda, yang aku tau, aku hidup ditugaskan untuk belajar, belajar dan belajar. Temanmu dapat dihitung dengan jari. Aku tau dari usahaku banyak hal yang telah aku capai. Pengorbanan yang sebanding dengan yang didapatkan.

Masuk dunia kerja, ini yang membuat semuanya dimulai. Kegagalan demi kegagalan pun menghampiri.

Sampai saat ini pertanyaan terbesar di benakku. Apakah ada kesalahanku yang tak termaafkan hingga semua yang menghampiriku membuatku terpuruk dan hampir putus asa.

Kerja. Dunia yang mengerikan untukku saat ini. Bahkan menjadi semacam penjara. Karena bagaimanapun aku berusaha, aku harus menerima keadaan yang ada. Tanpa pilihan.

Cinta. Kegagalan kedua. Cinta memang tak harus memiki. Katanya. Namun, jika kita berusaha untuk memiliki apakah itu salah? Apakah usaha-usaha untuk memiliki itu salah? Apakah itu bukan namanya cinta? Hanya inginkan keadilan. Apakah kesiapan-kesiapanku salah? Apakah salah jika aku siap bertanggung jawab atas hidup seseorang? Atau, apakah aku ditakdirkan untuk sendiri? Kembali, aku tak percaya lagi peribahasa yang aku bahas diatas. Sama sekali.

Tulisanku kali ini berakhir bersamaan dengan habisnya teh hangat di gelasku. Sama dengan gelas yang kosong, ceritaku pun berakhir dengan "kehampaan".